Jumat, 20 April 2012

Keutamaan Shalat Shubuh


Keutamaan Shalat Shubuh
Oleh: Jajang Hidayatullah[1]

Tidur merupakan kebutuhan, karena dengan tidur badan kita akan teristirahatkan dari berbagai kegiatan yang tidak jarang membuat kita penat. Kesehatan pun akan terjaga dengan tidur.Tapi terkadang tidur juga membuat kita terlena sehingga kita melupakan dzikir kepada Allah swt. sering kali hal itu terjadi karena faktor ketidak tahuan dan kebodohan kita, meskipun tidak jarang juga karena murni kedurhakaan karena pembangkangan. Padahal kalau kita kaji dengan seksama sungguh sangat luar biasa keutamaan dzikir pada waktu shubuh; dalam hal ini adalah shalat shubuh yang hanya dua raka’at. Sehingga bagi orang yang berilmu demi meraih keutamaan tersebut akan memaksakan diri mengerjakannya walau pun harus berjalan merangkak.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits, dari sahabat Abu Hurairah ia berkata: bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sekiranya orang-orang tahu keutamaan menyambut seruan adzan dan berada di shaf (barisan) pertama kemudian hal tersebut hanya bisa diraih dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi demi mendapatkannya. Sekiranya mereka tahu keutamaan Shalat ‘Atamah (isya) dan shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meski harus merangkak” (H.R Bukhari-Muslim).
Imam Nawawi berkata: makna “niscaya mereka akan mendatanginya meski harus merangkak ” adalah andai kata mereka mengetahui keutamaan dan kebaikan yang bakal diraih, kemudian mereka tidak mampu mendatanginya kecuali hanya dengan merangkak niscaya mereka akan melakukannya walau pun harus merangkak sehingga mereka tidak akan luput dan absen mengerjakannya berjama’ah di mesjid. Maka jelas, Hadits diatas berisi ajnuran yang sangat tegas untuk menghadirinya.
Sedang al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan: makna “sabda Nabi, andai kata mereka mengetahui keutamaanya” yakni keutamaanya yang lebih istimewa dan “sabda Nabi, niscaya mereka akan mendatanginya” yakni mendatangi kedua shalat tersebut (Isya dan Shubuh), maksudnya mereka akan mendatangi tempat pelaksanaan shalat berjama’ah, yakni masjid. Sedangkan “sabda Nabi, meskipun harus merangkak” yakni merangkak tertatih-tatih karena tidak bisa berjalan seperti seorang bayi yang merangkak.
Melalui beberapa sabda Nabi dalam haditsnya, Berikut adalah keutamaan-keutamaan shalat shubuh, diantaranya:

Seperti Shalat Semalaman
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Utsman bin Affan, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
Barang siapa mengerjakan shalat isya berjama’ah seolah-olah ia mengerjakan shalat separuh malam. Dan barang siapa shalat shubuh berjama’ah seolah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (H.R Muslim).

Dikerumuni dan dido’akan Para Malaikat
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
تَفْضُلُ صَلاَةُ الْجَمِيعِ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا وَتَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ فَاقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ {إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا}.
“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima kali lipat shalat munfaridh (sendirian), Malaikat malam dan Malaikat siang berkumpul menghadri shalat shubuh”.
Kemudian Abu Hurairah berkata: silahkan kamu baca:
إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat). (Q.S al-Isra: 78).
Dalam riwayat Imam Bukhari juga dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهْوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“para Malaikat malam dan Malaikat siang turun silih berganti, dan mereka berkumpul pada shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naiklah para Malaikat yang bertugas mencatat amal kalian dan Allah bertanya kepada mereka (dan Allah maha tahu tentang keadaan hamba-hambaNya):’bagaimana kedaan hamba-hambaKu saat kalian tinggalkan?’ mereka menjawab, ‘kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat dan datang mereka juga dalam kedaan mengerjakan shalat”.
Imam Nawawi berkata: “adapun berkumpulnya para Malaikat pada shalat shubuh dan shala ashar adalah bentuk kasih sayang Allah Swt terhadap hamba-hambaNya yang beriman dan merupakan penghormatan juga bagi mereka dengan menjadikan berkumpul dan berpisahnya para Malaikat tepat pada waktu-waktu ibadah dan ketaatan mereka kepada Allah Swt. sehingga para Malaikat menjadi saksi atas kebaikan yang mereka lakukan.”

Lebih Baik Dari Dunia Dan Isinya
Keutamaan ini berkaitan dengan mereka yang selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan shalat sunat dua raka’at sebelum shalat shubuh. Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari Aisyah r.a bahwa Nabi Saw bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at shubuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”
Dalam beberapa hadits mengisyaratkan bahwa Rasulullah Saw sangat ketat sekali menjaga amalan sunat ini (dua raka’at shalat sunnat qobla shubuh) dibanding dengan amalan-amalan sunnah lainnya. Maka pantas kalau Rasulullah tidak pernah mengerjakan shalat rawatib ketika safar kecuali shalat sunat dua raka’at qobla shubuh.
Sehingga pernah suatu saat Rasulullah bersabda: “janganlah kalian tinggalkan dua raka’at shalat sunnat shubuh meskipun kalian berada dipunggung kuda”
Oleh sebab itu, apabila beliau terluput mengerjakan shalat sunat dua raka’at itu, maka beliau akan mengerjakannya sesudah shalat shubuh yang fardhu.

Berkesempatan Melihat Wajah Allah
Mungkin inilah keutamaan yang paling tinggi dari keutamaan yang lainnya; karena Rasulullah menjamin bagi kita selau dan terus melaksanakan shala shubuh berjama’ah akan mendapatkan kenikmatan yang agung. Yaitu bertemu dengan Allah swt dengan jelas tapa hijab.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah al-Bajali, ia berkata: ‘suatu ketika kami duduk bersama Nabi Saw lalu beliau memandang bulan pada malam purnama’ lantas bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak akan terhalang sedikit pun melihatnya (akan melihatnya dengan jelas sebagai jelas nya bulan purnama) apabila kalian mampu tidak terlewat mengerjakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam maka lakukanlah..!”
Akhirul-kalam...Mudah-mudahan catatan ini menjadi motivasi bagi kita untuk segera bangkit dari kemalasan dan keterlelapan tidur sehingga kita bisa meraih semua keutamaan yang telah Allah dan Rasulnya janjikan. Amin..


[1] Mahasiswa Tafsir-Hadits (Alumnus PPI 34 Cibegol)

1 komentar: