Sabtu, 21 April 2012

Syi’ah Berulah


Syi’ah Berulah
Oleh: Jajang Hidayatullah[1]

Ditengah mencuatnya berbagai kasus kerusuhan dan ketidak adilan yang terjadi di Indonesia, masih terngiang ditelinga kita kasus kerusuhan yang melibatkan Kaum Sunni dan Syi’ah yang terjadi disampang jawa timur ikut mewarnai semerawutnya Negri ini, sangat miris memang, pasalnya secara mengejutkan kelompok minoritas Syi’ah ‘berulah’ dinegara Indonesia yang mayoritas Sunni. Apalagi menurut sebagian kabar amuk masa itu  dipicu penganut faham syi’ah yang melanggar perjanjian dan kesepakatan dengan tetap memaksakan faham Syi’ah menyebar dilingkungan sekitar, Sehingga bentrokan pun tidak bisa dihindari. Ada yang juga mensinyalir kerusuhan ini dipicu dari konflik warga biasa. Tapi yang lucu, Isu ini oleh sebagian kelompok (baca:kaum liberal) malah dimanfaatkan menjadi amunisi untuk menyerang Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dianggapnya telah gagal menciptakan kerukunan antar Umat beragama. Jelas tindakan ini memperkeruh dan menambah masalah.
Dari awal menurut pandangan Sunni,  Syi’ah merupakan aliran sesat dan menyesatkan, ajarannya jelas merusak, karena aqidahnya diletakan atas dasar dusta dan kebencian kepada Sunni, para sahabat yang diagungkan oleh kaum Sunni, dipandangan kaum Syi’ah para sahabat malah dilecehkan, sehingga hadits Nabi pun banyak yang ditolak oleh faham Syi’ah dan banyak lagi kesesatan yang lainnya yang justru ada pada wilayah pokok (ushul). Apalagi dengan konsep taqiyah-nya sudah dapat dipastikan mereka akan berbohong; selama keadaannya minoritas—seperti Syi’ah di Indonesia ini—mereka akan dengan sangat fasih menyembunyikan semua kesesatannya itu, mereka juga tidak akan pernah merasa “berdosa” mengingkari keyakinan-keyakinan mereka sendiri didepan Ahli Sunnah. Dengan alasan inilah mengapa kemudian Syi’ah akan sangat sulit untuk diajak dialog (taqrib) atau pun toleransi.
Abu Hatim ar-Razi berkata : Aku mendengar Yunus bin ‘Abdil A’la berkata, berkata Asyhab bin ‘Abdil ‘Aziz, Malik ditanya tentang kelompok Rafidhah (Syi’ah), maka beliau menjawab : ”Jangan berbicara dengan mereka dan jangan pula menerima pandangan mereka, karena mereka adalah para pendusta.” [Lihat : al- Muntaqo min Minhaj al-I’tidal fi Naqdhi Kalam Ahli Rafd al-I’tizal karya Imam adz-Dzahabi, 1993, hlm. 21].
Kasus kerusuhan di sampang ini harus betul-betul dikaji secara serius dan dicarikan solusinya oleh pemerintah agar kemudian tidak terjadi benturan-benturan yang merugikan berbagai pihak, termasuk negara indonesia sendiri.
Terlepas dari kasus diatas; apakah itu merupakan konflik bermotif agama  atau bukan, sesungguhnya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian, agama yang tidak mengajarkan kekerasan, apalagi sampai membenci dan mencaci maki orang yang dihormati dan diagungkan orang lain.
Kita sepakat dengan alasan kemanusian kasus ini harus diusut, apalagi keamanan mutlak harus diciptakan pemerintah di negara ini. Akan tetapi jika dengan alasan kemanusiaan itu, malah berakhir pada kesimpulan syi’ah tidak sesat, saya kira tidak berlebihan kalau dikatakan negara ini sedang kembali menanam benih kerusuhan. Dan ini ‘bom waktu’ saja bagi pemerintah. Mudah-mudahan dengan kasus semua ini tidak kemudian menutupi dan mengaburkan Syi’ah sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan semoga saja kita semakin bara’ terhadap kesesatan mereka. Kita hanya bisa berdoa: ya allah tunjukanlah yang hak itu hak dan yang batil itu batil.


[1] Mahasiswa Tafsir-Hadits STAI Persis Garut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar