Jumat, 20 April 2012

Pendidikan adalah Solusi


(sekali lagi) Pendidikan adalah  Solusi
Oleh: Jajang Hidayattullah[1]

Memperhatikan fenomena penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di negri ini sungguh sangat mengkhawatirkan, tak urung selalu membuat kita menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, bayangkan saja dari mulai korupsi yang semakin subur sampai menjamurnya pornografi seolah tidak ada selesainya mewarnai wajah negri ini. Belum lagi kasus nyontek masal yang dilakukan sejumlah siswa, menandakan bahwa kejujuran sudah tidak ada ruang lagi di Negri ini. Mirisnya, pemandangan mengerikan ini nyaris kita saksikan setiap hari.
Sebenarnya seluruh persoalan bangsa ini semuanya bermuara pada bobrok dan lemahnya pendidikan. Diperparah lagi dengan semakin suburnya kapitalisasi pendidikan membuat pendidikan tidak begitu merata dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Yang paling memilukan sistem atau pola mayoritas pendidikan yang ada cenderung sekuler. Sehingga pendidikan di negri ini sulit menelorkan generasi-generasi yang paripurna (Insan Kamil), yang muncul justru  generasi yang semakin pintar mendesaign kejahatan.
Ironis memang, penyimpangan-penyimpangan itu justru muncul dari kalangan terdidik. Pendidikan yang seharusnya menjadi solusi, malah jadi ‘polusi’ bagi negri ini. Nampaknya persoalan semakin mewabahnya kasus yang mencerminkan dekadensi moral ini sangat jelas mengisyaratkan bahwa pendidikan di negri ini sedang mengidap ‘penyakit’ yang cukup akut. Ada apa dengan pendidikan kita?.
Para pakar—seperti al-Attas—mensinyalir bahwa penyakit yang sedang menjangkiti pendidikan saat ini adalah ‘sekulerisme’. Disadari ataupun tidak pendidikan maupun ilmu pengetahuan yang berkembang selama ini telah disekulerkan oleh peradaban Barat; sebuah peradaban yang tidak dibangun diatas dasar wahyu dan kepercayaan pada agama.
Dr Hamid  Fahmi Zarkasyi menyatakan identitas peradaban Barat dapat dilihat dari periode penting, yaitu modernisme dan postmodernisme. Modernisme adalah aliran pemikiran Barat modern yang timbul dari pengalaman sejarah mereka sejak empat abad terakhir. Ringkasnya, modernisme adalah faham yang muncul menjelang kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri, dan abad ilmu pengetahuan. Ciri-ciri zaman modern adalah bekembangnya pandangan hidup saintifik yang diwarnai oleh faham sekulerisme, rasionalisme, empirisme, cara berfikir dikotomis, desakralisasi, pragmatisme, dan penafian kebenaran metafisis. Selain itu modernisme yang terkadang disebut westernisme membawa faham nasionalisme, humanisme liberalisme, sekulerisme dan sebagainya. Sedangkan postmodernisme adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modernisme ataupun sebagai kelanjutannya. Postmodernisme berbeda dari modernisme karena ia telah bergeser pada faham yang baru, seperti nihilisme, relativisme—doktrin tentang nilai yang digunakan para pemikir postmodernisme untuk menggugat agama. Programnya adalah penghapusan nilai dan menggusur tendensi yang menagungkan otoritas—pluralisme, dan persamaan gender (gender equality) (Hamid Fahmi Zarkasyi, 2010:168-170). Itulah sekurang-kurangnya elemen penting peradaban Barat yang kini sedang menguasai dunia dan ilmu pengetahuan.
Secera sederhana, konsep sekuler ini dapat difahami hampir sama denga konsep kehidupan dunia (hayat al-Dunya) dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an dan al-Hadits (Naquib al-Attas, 2010: 52 ) kata ‘dunia’ sendiri memiliki wazan fu’la dan berasal dari kata الدنو yang artinya dekat. Disebut dunia karena ia lebih dahulu sebelum akhirat. Ada juga yang menyatakan bahwa dunia lebih dekat kepada kebinasaan (lihat Fath al-Bari, jilid I: 22). Artinya pendidikan yang sekuler adalah pendidikan yang tidak memperhatikan adab, pendidikan tersebut hanya diarahkan pada pencapaian masalah keduniaan saja. Tujuan Pendidikan seperti ini seringkali hanya sekedar untuk mencapai kompetensi akademik sebagai syarat mendapatkan ijazah saja. Inilah sebenarnya problem besar yang sedang dialami pendidikan kita dewasa ini.
Islam—tepatnya imam Ghazali dalam Ihya ‘ulumu al-Din—mengklasifikasikan ilmu kepada fardhu ‘ain dan fardu kifayah. Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu-ilmu dasar yang hukumnya wajib dalam diri seseorang; mencakup hal-hal yang prinsip seperti aqidah, tafsir, hadits, syari’ah dan lain-lain. Sedangkan ilmu fardu kifayah adalah ilmu yang semua orang tidak mesti menguasainya cukup hanya diwakilkan; seperti ilmu alam, ilmu hitung, sastra, ilmu terapan dan lain-lain. Hal yang sama pun sebenarnya sudah diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an, klasifikasi ini Nampak jelas ketika hamba yang shaleh Luqmanul haqim memberi nasihat kepada putranya (lihat QS. Luqman : 13-19).
Pengklasifikasian ilmu ala imam Ghazali yang memperhatikan skala prioritas ini tentunya tidak kemudian difahami secara dikotomis, dualisme dan  parsial; melainkan harus secara integral. Apa yang dicanangkan al-Ghazali diatas seyogyanya mampu dikonseptualisasikan secara matang dalam sebuah sistem atau kurikulum yang ada dilembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian pendidikan yang ada di negri ini tidak tuna makna, karena ilmu pengetahuan yang diberikan pada peserta didik selalu dipandu oleh wahyu. Selain itu pendidikan yang ditawarkan pun akan selalu berbasis integral, tidak kemudian berhenti pada aspek kognitif saja.
Singkatnya, kasus-kasus kejahatan yang dipertontonkan negri ini;  dari mulai korupsi hingga pornografi dan juga yang lainnya, sesungguhnya tidak muncul dengan ujug-ujug melainkan jauh hari sebelumnya mental kotor tersebut—disadari ataupun tidak— sudah lama dibangun semenjak mereka singgah dilembaga-lembaga pendidikan ‘yang tidak sehat’ di negri ini. Meskipun demikian diharapkan kedepan lembaga-lembaga pendidikan yang ada; dari mulai TK sampai perguruan tinggi tidak hanya sekedar ‘menjajakan pepesan kosong; apalagi beracun, akan tetapi promosi dan iklan yang digembar-gemborkan lembaga pendidikan dibarengi dengan sistem dan kurikulum berkualitas yang tidak mencedrai wahyu dan ilmu pengetahuan, juga lebih menawarkan pendidikan yang mampu menciptakan Akhlaqul Karimah dari generasi ke generasi.
Diakui memang membangun sistem pendidikan itu by desaign tidak semudah membalikan telapak tangan; akan tetapi setidaknya selalu ada ikhtiar kearah sana. Semoga…


[1] Mahasiswa Tafsir-Hadits STAIPI Garut (Alumnus PPI 34 Cibegol)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar