Jumat, 20 April 2012

‘Tumbuhkan Budaya Tahfidz’

Tumbuhkan Budaya Tahfidz’
Oleh: Jajang Hidayatullah[1]

Bible sangat problematis. Analisa Adian Husaini menyatakan bahwa Richard Elliot Friedman, dalam bukunya Who Wrote the Bible? menulis bahwa hingga kini, siapa yang sebenarnya menulis kitab ini (Bible) masih misteri. Ditambah problem standar moral para tokohnya pun sangat terpotret jelas dalam sejarah; bayangkan saja Orang-orang yang dianggap terlibat dalam penulisan Bible dinyatakan melakukan perzinaan dan menjerumuskan suaminya kejurang kematian.
Selanjutnya beliau menyatakan, Bruce M. Metzger dalam bukunya yang berjudul “The Text of the New Testtament: its Trans mission, Corruption, and Restoration” menjelaskan bahwa adanya dua kondisi yang selalu dihadapi oleh interpreter Bible, yaitu: pertama, tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan kedua, bahan-bahan yang adapun sekarang ini bermacam-macam, dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Belum lagi sejarah membuktikan, benturan Bible dengan perkembangan sains memang dirasakan begitu kental dan dominan. (Adian Husaini, 2005, hlm41-43)
Walhasil, lahirnya ilmu Hermeneutika pun semakin menegaskan bahwa Bible itu problematis. Pasalnya, sikap skeptis dan desakralisasi merupakan ‘syarat mutlak’ dari Hermeneutika itu sendiri. Dari awal Bible sudah sejajar dengan teks-teks biasa, maka wajar kalau budaya Tahfidz hampir tidak akan pernah kita temukan di dunia Barat. So, Apa yang akan mereka hapal??!!
Hal yang sangat kontras terjadi di dunia Islam, justru budaya tahfidz atau menghapal merupakan sesuatu yang urgen dan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam keilmuan Islam. Secara historis, kajian biografi tokoh atau Ulama membuktikan bahwa mayoritas para Ulama hapal Al-Qur’an dari sejak dini. Kasus amoral yang dilakukan tokoh Keristen sesungguhnya tidak berlaku dalam Islam. Adanya disiplin ilmu Jarh wa Ta’dil dalam hadits menunjukan bahwa tokoh-tokoh dalam Islam semuanya patut diteladani. Disinilah letak kekuatan epistimoligi Islam. Maka tidak heran kalau kemudian kitab suci kita: Al-Qur’an dan Hadits, menjadi sasaran utama serangan musuh-musuh Islam. Upaya dekonstruksi dan desakralisasi musuh Islam terhadap kitab suci pun semakin masif dilakukan.
Dengan demikian, diantara bukti bahwa kita mencintai dan meyakini firman Allah Swt dan Hadits Nabi Saw sebagai teks yang sakral, mari kita tanamkan, tingkatkan dengan menjaga budaya Tahfidz ini pada anak didik kita sejak dini; baik di lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan—apalagi pesantren. Pernyataan yang menyatakan bahwa menghapal akan mempertumpul analisa seseorang dalam memecahkan berbagai persoalan adalah asumsi ‘menyesatkan’ yang harus kita singkirkan dan buang jauh-jauh, karena hal itu—menurut hemat saya—adalah benih virus Sekuler. Rasulullah mengingatkan:
 “jagalah oleh kamu sekalian Al-Qur’an ini. Karena demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya (Allah Swt) sungguh Al-Qur’an itu lebih cepat terlepasnya dari pada unta terlepas dari tali ikatannya”. (H.R Bukhari, Kitab: Fadlail Al-Qur’an, Bab: Istidzkar Al-Qur’an wa ta’ahuduhu).


[1] Mahasiswa STAI Persis Garut

1 komentar:

  1. mari sama-sama kita bangun budaya tahfidz ini pada anak didik kita...karena dengan hafal al-Qur'an maupun hadits sejak dini..akan memudahkan memahami "tirkah" Rasul tsb sebagai petunjuk...

    BalasHapus